Senin, 10 Maret 2014

BUNG HATTA’S WORDS WISDOM (PART 5)



“Demikianlah harapan kaum idealis yang merumuskan filsafat Negara dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia… Satu ciptaan, mungkin terlalu tinggi bagi manusia biasa melaksanakannya, tetapi sebagai pegangan untuk menempuh jalan yang baik, sangat diperlukan. Dasar-dasar itu menuntut… kepada pemimpin-pemimpin politik dan kepada orang-orang Negara untuk melatih diri supaya sanggup berbuat baik dan jujur, sesuai dengan janji yang diperbuat di muka Tuhan”
“This is the hope of the idealists who set the National Guidance and the Constitution of the Republic of Indonesia… a creation which, for common people, may be difficult to perform, but as guidance for action, it is absolutely required. The foundations insist that… the political leaders and government officials train themselves to have the capability to perform in a proper conduct and honesty, in accordance with their vow to God”
(Mohammad Hatta, Demokrasi Kita, 1961)

“… Demokrasi Pancasila baru dapat hidup apabila Negara Indonesia sudah menjadi Negara hukum. Dan Negara hukum itu belum lagi tercapai. Sebab itu setiap orang diantara kita harus berusaha mencepatkan datangnya Negara hukum itu…”
“… The democracy of Pancasila will only be able the exist if Indonesia has become a country which implements the rules of law. And such a nation has not been created yet. Therefore everyone of us should make serious effort to accelerate the existence of the country with rules of law.”
(Mohammad Hatta, “Menuju Negara Hukum” Pidato penerimaan Gelar Dr (HC) di UI, 30 Agustus 1970)

“Rasa persatuan tidak berarti bahwa semuanya harus diperas menjadi satu. Persatuan… dengan tidak mempedulikan pendapat yang berlain-lain hanya tercapai dalam Negara yang berdasarkan totaliter, Negara fasis atau komunis…”
“The feeling of unity does not mean that all has to be pressed in to one. Unity… without a respect to the opinion of others, can only be reached in countries with totalitarian base as well as in facist or communist countries…”
(Mohammad Hatta, Pidato dalam Pertemuan dengan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia, 25 Juni 1966)

“… semakin bijak… pemimpin-pemimpin rakyat melakukan pimpinan, bimbingan dan pengayoman terhadap rakyat seluruhnya… unsur-unsur kebhinekaan itu lambat laun akan… meleburkan diri dan semangatnya kepada ketunggalikaan… tetapi bila salah pimpin oleh orang-orang berjiwa kecil… yang tidak berjiwa kenegaraan, akibat sebaliknya yang tidak diingini bias pula terjadi…”
“… the wiser… the leaders to give leadership, support and protection to the whole population… the diversity will gradually blend itself and its spirit in to a unity… however, if there is a misleading by narrow_minded officials… with no statesmanship, unexpected result can also happen…”
(Mohammad Hatta, “Bhineka Tunggal Ika”, 1980)

“… koperasi berdasar self-help dan percaya pada diri sendiri, dan bukanlah organisasi minta-minta… lebih dahulu ditanam sendi usaha bersama atas asas kekeluargaan. Apabila sudah tegak, barulah… Pemerintah… menyempurnakan yang telah berdiri itu.”
“… a cooperative is based on the principals of self-help and self-confidence, this is not an organization that begs… it should first embed mutual endeavors based on the spirit of brotherhood. Once a cooperative is able to stand on its own… The government should help in making the cooperative stronger.”
(Mohammad Hatta, “ Koperasi Jembatan ke Demokrasi Ekonomi” Pidato pada Hari Koperasi ke-3, 12 Juli 1953)

0 komentar:

Posting Komentar