Kamis, 04 Juli 2013

Aku, IPDN, dan Keluarga Kunang-Kunang (Part 1)




Forum Indonesia Muda atau dikenal dengan singkatan FIM telah memasuki 1 Dekade pelaksanaan. Sebuah forum pelatihan yang mempertemukan mahasiswa dan pemuda yang berasal dari seluruh penjuru tanah air berkumpul mengeluarkan ide-ide kreatif dan inovatif untuk perubahan bangsa ke arah yang lebih baik di masa yang akan datang. Forum ini dikemas dalam bentuk pelatihan leadership dan character building. Dan terbentuk atas dasar kegelisahan hati dari sepasang suami istri yang luar biasa menginspirasi, melihat beragam permasalahan yang menggelayuti bangsa ini terutama permasalahan di kalangan pemuda. Beliau adalah Ayah Elmir Amien dan Bunda Tatty Elmir.
Tahun 2013, tepat 1 dekade pelaksanaan FIM ini. Sejak tahun 2003 sampai 2009 dilaksanakan setahun sekali, dan sejak tahun 2010 dilaksanakan 2 kali setahun, karena melihat banyaknya peminat setiap kali pelaksanaan FIM ini. Dan momentum yang biasa digunakan dalam pelaksanaan FIM ini yakni Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda. Pelaksanaan FIM selalu dipusatkan di Cibubur, Jakarta. Pada tahun ini, yang merupakan pelaksanaan ke 14, maka dalam rangka memperingati 1 Dekade pelaksanaan FIM, FIM 14 dilaksanakan dua kali di dua tempat berbeda yakni di Cibubur dengan angkatan FIM 14C dan di Baso, Bukittinggi dengan nama angkatan FIM 14B.

FIM 14 B, Bukittinggi/Baso dan Beda
Setiap pelaksanaan FIM ini, selalu ada tema khusus yang diangkat. Dan pada FIM 14 ini mengangkat tema “Kolaborasi Karya untuk Negeri”. Dan digandeng dengan tema khusus “Bung Hatta Bapak Bangsa”. FIM 14 B, B disini merupakan simbol bahwasanya dilaksanakan di Bukittinggi yang merupakan kota Kelahiran dari seorang Tokoh Proklamator kita yaitu Bung Hatta. Tetapi juga bisa dikatakan B disini berarti Baso karena berlangsung di IPDN Baso ataupun dapat dikatakan Beda. Kenapa demikian? Karena FIM 14 B merupakan FIM yang pertama kali dilaksanakan di Lingkungan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang berlokasi tepatnya di Baso. Itulah alasan mengapa FIM 14 B dikatakan FIM 14 Beda. Dan masih banyak lagi nantinya akan diuraikan kenapa FIM 14 B dikatakan Beda.
Mengikuti FIM 14 B merupakan sebuah anugrah bagi saya pribadi. Hal ini dikarenakan di dua pelaksanaan sebelumnya saya mendaftar, tetapi tidak lolos seleksi. Saya berpikir, ”memang belum rezeki di tahun sebelumnya”. Dan bersyukur saya dapat mengikuti FIM 14B ini, karena termasuk orang-orang yang terpilih dari 4.995 orang yang mendaftarkan dirinya pada saat pendaftaran FIM 14 ini dibuka. Dan juga dikarenakan pelaksanaan FIM 14 B yang berbeda dari pelaksanaan-pelaksanaan sebelumnya yakni di Kampus IPDN Baso, Bukittinggi.
Ketika mengetahui saya berkesempatan untuk ikut dalam FIM 14B, maka saya langsung melihat daftar peserta yang akan mengikuti FIM dan ternyata dari Provinsi Riau terdapat 7 orang yang lolos. Dan persiapan keberangkatanpun kami bicarakan. Mulai dari seragam delegasi, kendaraan keberangkatan, hingga waktu keberangkatanpun disepakati yakni H-1 pelaksanaan, tepatnya 31 Mei 2013.
Selain itu, saya juga langsung mencari nomor-nomor peserta lainnya untuk nantinya pada awal pertemuan di lokasi acara mudah dalam berkomunikasi. Dan Alhamdulillah beberapa nomor teman-teman yang akan mengikuti FIM 14B saya dapat dari database yang telah dibuat oleh panitia. Luar biasa memang panitia dalam mempersiapkan agenda ini yang membuat saya menjadi penasaran dan sangat ingin bertemu dengan teman-teman se-Nusantara dan panitia di balik penyelenggaraan FIM 14B ini.

Hari Keberangkatan
Jum’at, 31 Mei 2013, jam menunjukkan pukul 09.00 WIB. Sesuai kesepakatan maka pukul 09.00 WIB sudah berkumpul di halaman Rektorat Universitas Riau. Namun, baru berempat yang hadir, Aku, Novi dan Mimin yang merupakan mahasiswa Universitas Riau yang kini aktif di kepengurusan BEM Universitas Riau serta Risma yang merupakan mahasiswa UIN Suska Riau. Berarti masih ada 3 yang belum hadir, yakni Bayu, Syafrizal, dan Yosa. Ketika itu kami yang hadir selalu menghubungi mereka dan jam telah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Akhirnya Syafrizal dan Bayu pun tiba di halaman Rektorat UNRI. Yosa yang belum hadir, ketika ditelisik rupanya ia masih mengurus proposalnya di Kampusnya Universitas Islam Riau yang sangat jauh dari Universitas Riau. Jam pun menunjukkan pukul 10.15 WIB, akhirnya sampai juga Yosa yang telah ditunggu-tunggu, dan kamipun langsung berangkat menggunakan travel yang kami sewa.
Di perjalanan, banyak hal unik yang terjadi di dalam mobil. Salah satunya berasal dari 2 mahasiswi Universitas Riau yang ternyata salah satunya memang tidak bisa melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil, Mimin namanya. Mahasiswi Fakultas Ekonomi ini ternyata jika perjalanan jauh menggunakan mobil suka mabuk perjalanan. Dan awal ceritanya, yang mabuk dahulu bukan Mimin, melainkan rekan sebelah duduknya yang juga mahasiswi Fekon UNRI. Tetapi, yang lucunya, yang duluan tumbang yakni mimin, yang banyak menghabiskan kantung plastik selama perjalanan. Hmmm. Banyak juga ya yang dikeluarkannya selama perjalanan.

Institut Pemerintahan Dalam Negeri Baso

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan sekitar 4,5 jam, akhirnya tiba di lokasi acara yakni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Baso. Kagum, dan tidak pernah dahulunya terpikir akan menginjakkan kaki di Kampus IPDN ini. Di IPDN kami disambut oleh Panitia yang juga merupakan alumni FIM sebelumnya yakni ada Galang, Vivi, dan Bang Jalil yang ku ingat waktu itu. Ketika kami turun dari mobil, ternyata menyusul rombongan yang datang dari Bandara Padang, pastinya dari luar Sumbar. Dan berkenalan dengan dua orang diantaranya yakni Imron dari Semarang dan Rizky dari Universitas Padjajaran. Setelah melakukan absen kedatangan, kamipun dibawa ke dalam kampus untuk melakukan registrasi peserta di sekretariat panitia. Dan disana kamipun menyerahkan segala persyaratan dari Kontrak Belajar, identitas dan buku bacaan yang akan disumbangkan ke rumbel FIM yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Disini mulai dipisah antara yang laki-laki dan perempuan menuju penginapan.
Sesampai di penginapan yang sangat mewah bisa dikatakan walau belum selesai 100% pembangunannya, karena sekamar berdua, yang biasanya pelatihan-pelatihan sebelumnya yang pernah diikuti sekamar biasanya 3-5 orang. Ketika itu aku mendapat kamar 110 dan sekamar dengan mahasiswa Universitas Andalas (UNAND), Harly namanya. Setelah beristirahat sejenak, kamipun berkeliling kamar berkenalan dengan satu per satu teman-teman yang telah hadir. Dan akhirnya ketemu dengan Zulfikar yang dahulu hadir di asrama dan telah smsan denga dia.
Malam pertama di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), suasana hening dan semilir angin dingin yang berhembus sangat terasa nyaman tinggal dilingkungan ini. Kami pun makan bersama di meja makan panjang asrama. Dan saat itu, perkenalan antarsesama yang di awali perkenalan dari bapak asrama putra yang bernama Sirojuddin. Ketika perkenalan, ternyata FIM 14 B ini juga mengundang spesial tuan rumah Praja IPDN sekitar 12 orang sebagai peserta FIM, sungguh berbeda bukan dengan FIM-FIM sebelumnya. Ketika perkenalan ternyata salah satu Praja IPDN yang ikut sebagai peserta berasal dari Kabupaten Kampar Riau, Indra Dwi Perkasa namanya. Sangat-sangat luar biasa memang FIM ini mempertemukan Saudara-Sudara dekat se-tanah air. Yang mana sebelumnya tidak pernah kenal, jadi mengenal teman-teman se-daerah namun bersekolah dimana-mana sehingga terpisah dan tidak pernah bertemu sebelumnya.

Sambutan Luar Biasa Panitia

Setelah menyantap makan malam bersama teman-teman se-Nusantara di asrama, saatnya malam ramah tamah dengan Panitia FIM atau keluarga Kunang-Kunang. Agenda ramah tamah ini dilangsungkan di Aula IPDN. Ada yang menarik dalam penyambutan panitia ini, kami dibariskan di depan pintu masuk ruangan, peserta bertanya-tanya termasuk saya pribadi ada apa ya? Koq gak di suruh masuk aja langsung ke dalam mesti baris dulu, itulah pikiranku waktu malam pertama acara. Dan ketika pintu dibuka sungguh luar biasa sambutan pertama panitia diiringi music yang ngebeat sih kata orang-orang banyak, atau dikenal dengan music tempo cepat, panitia “berjingkrak-jingkrak” mengajak seluruh peserta untuk “jingkrak-jingkrak”. Wooow, amazing,, itulah perasaanku saat itu.
Dalam acara ramah tamah ini, kami peserta disambut oleh MC yang kocak deeh,, “untuk menyenangkan dua sejoli ini”, Dimas dan Putri. Sebenarnya ibarat pemeran film “beauty and …” gak ah becanda doank... Peace… Salam Perdamaian.
Dimas dan Putri ini memandu acara ramah tamah yang di awali dengan sambutan dari Ketua Pelaksana dan Ayah Elmir Amien diteruskan dengan Direktur IPDN Baso. Pada malam itu, kami dikenalkan dengan yel-yel luar biasa ala FIM. Bunyinya, Pemuda Indonesia…!!! Dan kamipun menjawab “Aku Untuk Bangsaku…” luar biasa emang yel-yelnya dan karena sedang berada di Bukittinggi dan tema tambahannya “Bung Hatta Bapak Bangsaku” makanya ada yel tambahan yakni “Bung Hatta…!!! Kata Mc, serempak kamipun menjawab dengan gerakan juga lho “Tokoh Teladanku”. Beda dengan FIM sebelumnya bukan.?
Setelah acara ramah tamah, maka dilanjutkan dengan pembagian kelompok coaching. Kami seluruh peserta dibagi kedalam 9 kelompok coaching yang masing-masing dipimpin oleh seorang coach. Dan namaku termasuk dalam kelompok 3 yang diberi nama Rohana Kudus seorang Jurnalis Wanita pertama kalau tidak salah. Di dalam kelompok ini aku bersama, Qory, dan Hengki (Lampung), Weffry, Rajif dan Mona (Padang), Addi dan Ricky (Palembang), Roi Rahmat (Cirebon Kuliah di Gorontalo), Bayu (UIN Suska Riau), Rino (Riau Kuliah di UTM), Indra D Perkasa (IPDN dari Riau), Selvia (IPDN asal Jabar), Dita (Medan). Kami dibimbing oleh coach yang suka traveling ini yaitu Ika Pipit (Semarang).
Pada pertemuan perdana kelompok ini, kami di dalam kelompok masing-masing berkenalan satusama lain yang dipimpin langsung coach Ika Pipit. Memang susah langsung kenal pada pertemuan pertama, makanya kami perkenalan dengan cara unik berputar menyebut nama dan keunikan masing-masing. Setelah berkenalan, maka sang coach Ika Pipit menerangkan apa sih tujuan grup coaching ini dibentuk. Ternyata tujuannya tak lain dan tak bukan karena kami nantinya harus menghasilkan karya sebuah social project yang akan diperlombakan antar kelompok di hari ketiga pelaksanaan. Yang mana social project yang akan dihasilkan tidak lari dari tema kegiatan FIM 14B ini yakni “Kolaborasi Karya untuk Negeri”. Dan di akhir pertemuan dipilihlah Hengki secara musyawarah mufakat layaknya Negara yang berdemokrasi tanpa anarki sebagai ketua kelompok Rohana Kudus. Dan kamipun kembali ke asrama masing-masing.

Istana Bung Hatta

Hari pertama pelatihanpun tiba, Sabtu 1 Juni 2013 bertepatan dengan hari kesaktian Pancasila. Pada hari perdana ini kami akan mengikuti Seminar Nasional “Kontribusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bagi Perekat Persatuan dan Kesatuan Indonesia”. Seminar ini merupakan kerjasama dengan KOMINFO Republik Indonesia. Kamipun dimobilisasi dari IPDN Baso menuju Istana Bung Hatta di Bukittinggi dengan Bus. Di perjalanan, ternyata Bukittinggi sedang menyambut kedatangan pembalap sepeda Tour de Singkarak dengan menyelenggarakan Fun Bike yang didikuti masyarakat. Sehingga kamipun kejebak macet sekitar 30 menit di sekitaran Bukittinggi. Serasa kami disambut oleh ribuan masyarakat Bukittinggi, Luar biasa memang FIM 14B.
Ekspektasi besar ketika berada dalam bus menuju  Istana Bung Hatta, karena informasi yang diperoleh yang akan mengisi seminar ada 2 menteri yakni menteri Komunikasi dan Informasi Bapak Ir. Tifatul Sembiring, dan Menteri Dalam Negeri Bapak Gamawan Fauzi, SH, MM. Serta panelis-panelis yang luar biasa seperti Taufik Ismail yang merupakan penyair dan budayawan dan Pimred TV ONE Karni Ilyas yang dikenal dengan Bang ONE.
Ketika seminar berlangsung, sungguh luar biasa bukan mimpi karena ketemu dengan orang-orang yang sering muncul di layar kaca. Di awali dengan menyanyikan Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan dilanjutkan keynote speech dan peresmian acara dengan pemukulan tabuh minang oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Bapak Ir. Tifatul Sembiring.
Dan juga akhirnya saya mendengar langsung Taufik Ismail berpuisi dihadapan kami seluruh peserta FIM dan juga beliau membawa seseorang musisi yang selalu membawakan puisi Taufik Ismail dengan cara musikalisasi puisi. Beliau hadir sebagai pembicara yang backgroundnya selaku budayawan. Selama waktu yang diberikan kepada beliau, beliau hanya menghabiaskannya dengan membacakan puisinya yang puisi pertama yang dibacanya berjudul “Rindu Pada Stelan Jas Putih dan Pantolan Putih Bung Hatta.”
Ketika break acara, kebanyakan peserta langsung menyerbu makanan ringan yang tersedia, namun aku dan sahabatku Syafrizal mendekati budayawan dan penyair Taufik Ismail meminta foto bersama dan meminta tandatangannya di puisi karyaku pribadi yang akan kuhadiahkan kepada Ayahku tercinta. “Alhamdulillah” akhirnya terwujud berpoto dan mendapat tandatangannya sesuai dengan impian sebelum berangkat ke Bukittinggi ini. Selain dengan Taufik Ismail aku bersama praja IPDN pun berkesempatan berpoto bersama Bapak karni Ilyas. Momen yang Luar biasa di Istana Bung Hatta yang hanya ada di FIM 14B. Karena asyiknya bertemu dan ngobrol dengan orang-orang luar biasa sehingga lupa makan snack yang disediakan panitia. Dan ternyata makan siangnya agak kelewat dari waktunya yaitu jam 13.30 WIB. Wah akhirnya perutku pun menahan lapar sampai waktu makan siang tiba.
Ketika makan siang pun tiba, makan dengan terburu-buru karena dikejar waktu yang sudah molor untuk materi selanjutnya. Wah seperti sedang dalam masa training militer rasanya karena kita di kurung dalam waktu yang telah ditentukan. Tetapi itu yang menjadi menariknya FIM 14B ini. Dan akhirnya kamipun pulang kembali ke asrama untuk bersiap-siap kembali agenda malam.

Materi Bunda yang Terlewatkan
Sesampai di asrama, tidak tau kenapa kepala ini sakit gak tertahankan. Mungkin karena makan telat tadi siang sehingga ke kepala sakitnya karena perut dah terlanjur kosong. Akupun meminta obat kepada panitia yang waktu itu Ari Aprilis yang merupakan alumni FIM Rescue yang juga dari Riau. Berharap reda sakitnya ketika sudah minum obat, ternyata belum juga. Dan akhirnya meminta izin ke panitia untuk tidak mengikuti agenda malam ini yang ternyata diisi oleh Bunda Taty.
Sayang rasanya melewatkan materi dari seseorang yang menjadi inspirasi di keluarga kunang-kunang ini. Dan lebih kesalnya materinya ternyata permasalahan yang sehari-hari kita jumpai yakni rokok. Bunda memang terkenal dengan gerakan mengkampanyekan anti rokok. Dan saya pribadi juga tidak menyukai orang yang dengan sewenang-wenangnya merokok di kawasan umum. Karena saya juga ingin berbagi dengan bunda pengalaman saya ketika teman saya dapat meninggalkan kebiasaan merokoknya karena awalnya ada kesepakatan anatara saya dan teman saya tersebut tidak boleh merokok ketika berjumpa dengan saya. Ampuh juga ternyata. Sehingga merasa sayang sekali materi bunda terlewatkan. Namun, kekesalankun kini sudah diobati dengan materi seluruh pelatihan kemarin sudah di upload di sosmed.

Siro Bapak Asrama yang Sabar

Ada seseorang yang pertama kali mengenalkan diri sewaktu makan malam pertama yang menarik perhatian peserta cowok pastinya. Dia adalah Siro sang Bapak Asrama yang biasa dikatakan sabar. Karena tugasnya sebagai bapak asrama, maka merupakan tanggungjawabnya mengkondisikan peserta tepat waktu berada di ruang pelatihan. Sehingga setiap subuh, Siro berkeliling dari 1 pintu kamar ke pintu kamar lainnya membangunkan peserta. Sekali berkeliling lebih dari 3, 4 atau bahkan 5 kali keliling asrama dia membangunkan peserta. Merasa bersalah juga sih ketika dengar sudah dibangukan dan dengan sengaja masih pura-pura tidur. Maaf ya Siro…
Dan yang unik sebenarnya adalah cara dia membangukan kami. Terkadang menggunakan gallon air dia tabuh sambil berkeliling dan menyuarakan subuh… subuh… subuh… memang bertanggungjawab sekali Siro ini dengan amanah yang diembannya sebagai Bapak asrama. Walaupun sudah dibangunkan dengan galonpun masih banyak juga peserta yang telat-telat bersiap-siap melakukan aktivitas pagi hari. Oleh karena kesabarannya itu, kami peserta cowok membubuhkan testimoni diselembar karton yang akan kami hadiahkan kepada Siro bapak asrama yang paling sabar....

 tO be Continue...
Penasaran dengan cerita lanjutannya khan...
nantikan untuk kisah selanjutnya di Buku Antologi Negeri Kunang-Kunang 
and the next part...

1 komentar:

  1. ari ada yg aku bingung di artikel kamu ini. maksudnya Roi Rahmat (Cirebon Kuliah di Gorontalo) apa ya ? jehehehehe

    BalasHapus