Minggu, 21 Juli 2013

Aku, IPDN, dan Keluarga Kunang-Kunang (Part 3 - The End)

Azzam sang Ketua Angkatan 14B
Setelah teman-teman menentukan pilihannya dalam secarik kertas, maka tiba pengumuman siapa gerangan ketua angkatan terpilih. Dan ternyata Azzam yang dipilih rekan-rekan semua dan juga sekaligus sebagai peserta terbaik putra dalam pelatihan FIM 14B ini. Sungguh iri melihat Azzam yang luar biasa memang dalam bergaul dengan seluruh teman-teman di FIM ini, tetapi saya tetap bangga karena juga telah berhasil menjadi yang terbaik dalam kompetisi selama FIM 14B berlangsung dengan berhasil meraih double Winner bersama rekan sekelompok saya Roi Rahmat, Addi Yusfan, Selvia, Indra, dan Rino. Ketika melihat jam di Hp tak terasa waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB. Memang hari yang panjang di awali dari jam 06.00 WIB dan berakhir pada pukul 02.00 WIB. Memang FIM 14 B luar biasa Beda.

City Tour Bukittinggi
Setelah bersukacita di malam hari, tibalah saatnya kembali bersenang-senang bersama teman-teman se-Nusantara mengelilingi dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah pada pra kemerdekaan yakni Makam Pahlawan perang Kamang dan wisata panorama Ngarai Sianok Bukittinggi. Walau sebenarnya ada beberapa tempat yang batal dikunjungi, namun itu tidak membuat hari-hari yang tak akan disia-siakan berlalu karena akan berpisah kembali dengan teman-teman yang akan kembali ke daerahnya masing-masing.
Di kamang kami disambut oleh pemerintah setempat, datuak-datuak dan ninik mamak Kamang hadir dengan sambutan yang luar biasa. Tidak ada kepikiran bakal disambut dengan sedemikian ramah dan luar biasa. Masyarakat setempat menyediakan kami tempat duduk dan makanan ringan disetiap bangku duduk. Dan ketika sambutan dari tokoh setempat beliau mengatakan hari tersebut merupakan sejarah pertama dikunjungi oleh mahasiswa seramai ini dan berasal dari seluruh Nusantara. Dan akan kami catatkan di dalam buku sejarah bahwasanya Makam ini pernah dikunjungi mahasiswa dari seluruh penjuru tanah air dari sabang sampai merauke, kata tokoh tersebut. Kamipun disuguhi cerita awal mula terjadinya peristiwa perang kamang yang memakan korban tidak hanya warga masyarakat kamang sendiri, melainkan bersala dari seluruh daerah di Sumatera Barat. Sehingga dapat dikatakan bahwa perjuangan Perang kamang in bukan semata-mata perjuangan warga masyarakat Kamang, melainkan perjuangan masyarakat Sumatera Barat.
Di panorama Bukittinggi ini, masing-masing kelompok coaching berkumpul menyantap makan siang dan diakhiri dengan tukaran kado yang sangat berkesan, karena masing-masing membawa kado khas daerahnya masing-masing. Selepas bertukaran kado, Ibam dengan inisiatifnya melakukan tari maga-maga di atas panggung di panorama Bukittinggi. Dan kegiatan selanjutnya bebas di sekitaran jam gadang Bukittinggi.

FlashMop Maga-Maga di Jam Gadang
Sesampai di Jam Gadang, seluruh peserta dan panitia berkumpul, dan Ibam sang maestro maga-maga berkata kita akan buat video flashmop Maga-Maga di Jam Gadang. Sontak seluruh peserta semangat dengan ide “Gila” dari maestro maga-maga. Dan dengan komando dari kak Deni, maka Kak Ibam sang maestro yang memimpin maga-maga ini dan diikuti dari panitia dan berangsur-angsur peserta mengikuti. Sungguh momen yang luar biasa di Jam Gadang yang menjadi tontonan menarik pengunjung yang berada disekitaran Jam gadang pada waktu itu. Selepas flashmop maga-maga, maka peserta cowok yang berkoordinasi dengan panitia akan memberikan hadiah surprise kepada Siro bapak asrama. Dan Siro yang sewaktu itu sedang berada di Ramayana Bukittinggi ditelpon salah seorang panitia agar segera ke Jam Gadang. Setibanya di jam gadang, sontak kamipun membentangkan karton yang berisi testimoni seluruh peserta cowok dan juga ucapaan terimakasih kami kepada Siro. Siropun kami angkat dan lambungkan ke udara serta disiram juga dengan air. Peace Siro... salam perdamaian dari FIM 14B.
Praja IPDN dijarah
Ada satu hal yang unik ketika city tour di Bukittinggi. Dimana praja IPDN yang selalu mengenakan baju dinas hariannya dijarah teman-teman yang merupakan mahasiswa. Teman-teman mahasiswa dari seluruh Nusantara ini ada yang mengambil, meminta, malah sedikit maksa walau ada beberapa yang benar-benar dihadiahkan kepadanya lencana-lencana yang ada di baju PDH Praja IPDN. Sehingga balik dari city tour, PDH praja IPDN polos tanpa lencana-lencana yang awalnya bermacam-macam tertempel di baju. Dan akupun dapat lencana dari salah seorang praja IPDN yang berasal dari kota yang dekat dengan kampung halamanku yakni Padang Panjang yang bernama Anggy.
Tibalah Hari Kepulangan
Setelah menjalani masa-masa yang menyenangkan dan penuh dengan cerita-cerita indah, maka setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setelah melewati perjalanan tour seharian bersama teman-teman di Bukittinggi, ada beberapa teman-teman yang langsung pulang di malam harinya. Dan malah ada beberapa teman-teman yang pulang sebelum city tour. Terasa haru memang ketika merasa sudah nyambung dan dekat dengan teman-teman harus berpisah. Namun, perpisahan ini tidak merupakan akhir pertemuan kita, karena masih panjang perjalanan kebersamaan kita tentunya yang merupakan satu keluarga yakni keluarga kunang-kunang.
Malam itu terasa sunyi dan sepi, dan berbeda dengan malam-malam sebelumnya Praja IPDN hadir di asrama dan mengatakan mereka akan tidur di asrama bersama peserta lainnya. Karena mereka akan melepas kepulangan teman-teman ke daerah masing-masing. Walau hanya bertemu 4 hari dengan Praja IPDN, terasa sekali eratnya rasa kekeluargaan diantara kami. Rindu rasanya merasakan kembali suasana militer di IPDN Baso. Semoga suatu saat nanti FIM kembali digelar di lingkungan IPDN.

Dipagi harinya masih tersisa beberapa peserta dan panitia yang berada di asrama dan akan kembali ke daerah asal masing-masing. Ternyata di pagi itu masih disediakan sarapan paginya, memang luar biasa FIM ini. Dan akhirnya tiba saat semua dari kami yang tersisa di pagi hari itu saling berpamitan dan tak lupa juga kami rombongan dari Riau berpamitan dengan Ayah dan Bunda Elmir. Haru terasa memang dengan sebuah perpisahan yang merupakan awal perjuangan kami di daerah masing-masing dengan social project yang telah disepakati. Dan berharap keluarga kunang-kunang ini selalu menyinari negeri ini dengan kegiatan-kegiatan social yang bermanfaat hingga terwujudnya cita-cita bangsa yakni terwujudnya bangsa yang cerdas dan bermartabat. Tentunya nasib bangsa ini berada di pundak-pundak pemuda bangsa ini.
Pemuda Indonesia…!!! Aku Untuk Bangsaku…,
Bung Hatta…!!! Tokoh Teladanku…


The End...
Demikianlah Sepenggal Kisah FIM 14 Bukittinggi...
Segera Miliki Buku ANtologi Negeri Kunang-Kunang...

0 komentar:

Posting Komentar